Pernah ngebayangin nggak bagaimana bumi di tahun 2100?
Film WALL-E menggambarkan bumi sangat tidak layak huni. Tumpukan sampah yang tidak dapat terurai dan polusi udara yang memenuhi atmosfer. Dalam film ini, manusia telah meninggalkan bumi untuk hidup di luar angkasa. Ilustrasi tersebut merupakan konsekuensi dari gaya hidup yang tidak peduli terhadap lingkungan. Ancaman ini yang dihadapi di bumi jika kita terus mengabaikan sampah dan emisi yang dihasilkan dari gaya hidup kita, skenario seperti di WALL-E bisa jadi kenyataan di masa depan.
Di dunia nyata masalah ini sudah sangat mendesak. Data menunjukkan bahwa lebih dari 300 juta ton plastik diproduksi setiap tahun dan sekitar 8 juta ton plastik tersebut berakhir di lautan. Indonesia menghasilkan sekitar 12,87 juta ton sampah plastik per tahun pada 2023, yang artinya rata-rata sekitar 35.300 ton sampah plastik per hari di seluruh Indonesia menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Di Madrasah Nurul Qur'an sendiri jumlah sampah yang dibuang setiap harinya adalah lebih dari 1000 sampah plastik. Jumlah sampah plastik ini didapatkan dari jawaban 332 responden siswa Madrasah Nurul Qur'an yang menjawab pertanyaan “Berapa banyak sampah plastik yang Anda buang dalam sehari?”. Lalu, 25% dari 332 responden sering membuang sampah tidak pada tempatnya. Artinya sampah yang berserakan di madrasah kita tercinta ini adalah ulah 25% itu.
Pembakaran plastik tidak hanya mencemari udara tetapi juga menghasilkan 2,9 hingga 6 kg emisi karbon per kilogram plastik. Kalau di madrasah kita lebih dari 1000 sampah plastik tiap hari, anggap 1 plastik sampah berbobot 3 gram perlembar, berarti sehari kita menyumbang sampah plastik seberat 3 kilogram. Kalau semuanya dibakar akan menyumbang polusi udara yang menghasilkan 8,7 hingga 18 kilogram CO₂. Menurut World Economic Forum emisi karbon tiap tahunnya meningkat. Peningkatan ini dapat menyebabkan kenaikan suhu global hingga 2°C, dengan konsekuensi yang memperburuk perubahan iklim.
Jika kita terus-terusan seperti ini, skenario Bumi yang mirip dengan di film WALL-E bisa menjadi kenyataan pada tahun 2100. Namun, masih ada harapan. Melalui praktik pengelolaan sampah yang lebih baik, serta berkomitmen untuk mengurangi penggunaan plastik dapat mencegah menuju masa depan yang lebih cerah.
Referensi:
1. Jambeck, J. R., dkk. (2015). "Plastic waste inputs from land into the ocean." Science, 347(6223), 768-771.
2. R. A. D., dkk. (2017). "Environmental and economic impact of burning waste and residual fuels in cement kilns." Renewable and Sustainable Energy Reviews.
3. World Economic Forum. (2020). "The New Plastics Economy: Reimagining the Future of Plastics."
4. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. (2024, Februari 6). 12 Juta Ton Sampah Plastik Menumpuk di RI, Terjadi Antrean Truk ke TPA. sampahlaut.id