← Kembali ke Berita & Buletin

Pelacur, Anjing dan Cinta Tuhan

Seperti yang diceritakan oleh Nabi Muhammad Saw. dalam salah satu sabdanya yang diriwayatkan oleh hampir seluruh kitab-kitab dan periwayat-periwayat hadits shahih — dari shahih Bukhari-Muslim, Imam Abu Hurairah, hingga Imam Al-Baihaqi — tentang seorang pelacur yang menolong seekor anjing yang sedang dalam kehausan.

Kita semua tahu, bahkan sadar, bahwa zina adalah perkara yang sangat bertentangan dengan agama Islam. Dan siapapun pelakunya adalah dosa besar. QS Al-Isra' [17]:32. Di ayat yang sama, bahkan Al-Quran tidak hanya melarang melakukan zina, tapi mendekatinya saja tidak boleh dan dilarang. Modus chat seseorang yang bukan muhrim dengan kata-kata yang mengarah pada rayuan — contoh-contoh seperti itu saja dianggap bentuk khalwat yang menimbulkan fitnah dan menggiring kemaksiatan yang lebih besar. Apalagi yang dengan terang-terangan melakukan dan memperlihatkan perilaku zinanya.

Tapi di suatu kisah yang shohih dan dipercaya, dengan adanya seorang pelacur yang hanya memberi minum seekor anjing dengan lantaran kehausan di siang hari yang terik, itu justru diampuni dosanya dan mendapat cinta Tuhannya. Padahal kita juga bisa berkata, toh, bahwa yang diberikannya minum itu juga termasuk hewan yang dagingnya haram dan liurnya najis. Tapi kenapa dia mendapat keistimewaan yang luar biasa?

Dan itulah Rahmat dan Cinta Tuhan. Sebagaimana ia adalah bagian dari rezeki terbesar yang hanya diberikan kepada insan-insan pilihan-Nya. Kita lihat, tidak semua orang diberikan kesempatan rahmat dan keistimewaan itu, meski dia gemar ibadah — sekali lagi saya katakan, meski dia gemar beribadah (di sini bukan berarti dibalik, loh, ya, terus difahami keistimewaan hanya diberikan oleh orang-orang yang malas, dan yang taat beribadah nanti hidupnya susah dan jauh dari rahmat dan hidayah). Bukan begitu, jangan dangkal berpikirnya.

Saya analogikan begini: mungkin orang-orang yang gemar ibadah tapi tidak memiliki keistimewaan seperti kisah seorang pelacur tadi, bisa jadi karena merasa sok ahli surganya dia, itulah yang menyebabkan tertutupnya amal kebaikannya. Sesuai dengan kisah Al-Ghazali di dalam kitab Nashaihul 'Ibad karya Syekh Nawawi Al-Bantani, disebutkan bahwa Allah Swt justru menerima amalan kecil yang dilakukan oleh Al-Ghazali sebagai bekal masuk surga, sementara amal ibadah lainnya ditolak karena tidak murni karena Allah. Dan apakah anda tahu tentang amalan kecil itu? Amalan itu adalah menolong seekor lalat yang sedang dalam kehausan, yang meminum tinta di ujung pena Al-Ghazali — kisah yang hampir sama.

Terlebih, Nabi dalam sabdanya yang lain mengindikasikan bahwa ada orang-orang di akhirat yang memang dianggap muflis atau bangkrut. Terlihat banyak pahala awalnya, tapi di akhirat, pahalanya dikurangi habis-habisan karena banyaknya orang yang ia dholimi, dibuat rendah, dibuat sengsara saat di dunia. Itulah yang menyebabkan hilangnya jumlah amal dalam timbangan menuntut keadilan yaumul hisab.

Maka, tampaknya Tuhan ingin kita waspada. Bahwa “aturan main-Nya adalah tentang rahmat” — ibadah yang rajin bisa tak menuai rahmat karena kesombongannya, sedangkan dosa yang dialami seorang pelacur dengan keterpaksaannya memohon penuh harap rindu akan tobat dan ampunan-Nya, justru itulah yang membawanya sampai puncak rahmat yang tak terduga. Ibarat kata, “tangisan seorang pendosa lebih mulia daripada dzikirnya orang sombong.” Wallahu a'lam bishshowab.

Sekali lagi, kita semua insan yang patut untuk rendah hati. Walaupun kita harus belajar dari seekor anjing yang dikatakan najis bahkan haram, tapi Allah muliakan anjing seorang Ashabul Kahfi yang dianggap masuk surga berkat ketulusannya. QS Al-Kahfi [18]:18. Kalaupun kita merendahkan anjing karena dagingnya haram, daging kita juga haram. Kalaupun merendahkan karena dia makhluk najis, kencing kita sendiri pun najis sebenarnya.

Oleh karena itu, rahmati siapapun dan apapun, bahkan makhluk yang dalam kategori najis sekalipun. Apalagi dengan sesama manusia, tanpa harus memandang rendah status sosial dan kehambaannya. Sebagaimana rahmat-Nya yang meliputi segala sesuatu (Rahmatan lil 'alamin) — rahmat seluruh alam. Sebab kata Nabi, siapa yang berhati rahmat kepada semua makhluk, maka Allah akan menurunkan rahmat-Nya.

Ingin Bergabung dengan Nurul Qur'an?

Lihat jadwal, syarat, dan cara pendaftaran siswa baru.

Lihat Info SPMB